TEKNOLOGI “SINKRONISASI GELOMBANG OTAK” SEBAGAI SARANA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS MEDITASI

Keberadaan krisis ekonomi yang berkepanjangan di Indonesia telah berdampak / mempengaruhi sektor-sektor lainnya, dan bahkan sudah mengarah pada terpengaruhnya kesehatan jiwa bangsa kita. Hal ini terindikasikan dengan banyaknya kita temukan kasus-kasus orang stress, bunuh diri, naiknya temperamen emosional dll, yang pada akhirnya bila para meditator terkena imbasnya, maka akan timbul gejala sulit melakukan meditasi yang dalam, dan bahkan sangat memungkinkan sekali tidak dapat meditasi sama sekali. Padahal perguruan bela diri silat yang mempunyai unsur tenaga dalam tidak bisa lepas dari kegiatan meditasi. Dengan adanya Teknologi sinkronisasi gelombang otak, kesulitan dalam bermeditasi dapat diantisipasi, karena teknologi tersebut dapat mengendalikan tingkat kesadaran otak manusia, bahkan orang yang mengalami gangguan sulit tidur akibat stress, penyembuhannya dapat dibantu dengan menggunakan teknologi ini. Pengertian Gelombang Otak. Dari hasil penelitian para ahli, bahwa otak kita setiap saat menghasilkan impuls-impuls energi listrik. Tegangan listrik yang dihasilkan oleh otak tersebut dapat diukur dalam satuan microvolt (?V). Sedangkan getaran listriknya yang dihasilkan oleh otak, lazim kita sebut GELOMBANG OTAK dan dapat diukur dalam satuan cycle/second (c/s) atau Hertz (Hz). Gelombang Otak Versus Tingkat Kesadaran Manusia. Apabila pada suatu saat timbul suatu perubahan frekuensi dari gelombang otak, maka akan bermanifestasi timbulnya perubahan tingkat kesadaran manusia, dan begitu pula sebaliknya. Contoh apabila kita dalam keadaan sadar yang tinggi dan mau berangkat tidur, maka ada kecenderungan turunnya frekuensi dari gelombang otak. Semakin kita tidur nyenyak, maka frekuensinya semakin turun. Hubungan antara gelombang otak dengan tingkat kesadaran manusia dapat ditabelkan sebagai berikut: No Nama tingkatan Frekuensi Tingkat kesadaran 1 Delta 0,5 – 4 Hz Tidur nyenyak 2 Theta 4 – 8 Hz Awal tidur / alam mimpi 3 Alpha 8 – 14 Hz Santai (rileks) tapi masih sadar 4 Beta 14 – 30 Hz Kesadaran tinggi Sinkronisasi Gelombang Otak. Frekuensi / getaran listrik yang dihasilkan oleh otak dapat dipengaruhi dan dikendalikan dari luar tubuh, yaitu dengan memasukkan sinyal-sinyal (stimulus) dengan frekuensi tertentu ke mata maupun telinga. Dengan demikian maka frekuensi dari gelombang otak akan berubah dan sejalan (sinkron) dengan sinyal frekuensi yang dimasukkan melalui mata maupun melalui telinga. Teknik mempengaruhi gelombang otak inilah yang kita sebut sinkronisasi gelombang otak, yang uraiannya sebagai berikut: Stimulus melalui mata. Apabila kita dalam keadaan kesadaran yang tinggi / beta ( misalkan 20 Hz), dan didepan mata kita ada lampu LED yang berkedip-kedip 10 kali per detik ( 10 Hz), maka getaran / frekuensi listrik yang dihasilkan oleh otak akan turun dari 20 Hz menjadi 10 Hz, atau dengan kata lain kesadaran kita akan berubah menjadi rileks / alpha (lihat tabel). Stimulus melalui telinga. Memasukkan stimulus yang berupa getaran suara melalui telinga, tidak semudah memasukkan getaran cahaya melalui mata, karena telinga kita sulit merespon / menanggapi frekuensi yang sangat rendah. Untuk itu dapat direkayasa dengan memasukkan dua buah getaran suara yang berbeda menggunakan frekuensi yang tinggi pada masing-masing dua telinga kita, maka selisih dari dua frekuensi itulah yang akan diteruskan ke otak dan mempengaruhi getaran gelombang otak. Jadi apabila kita menginginkan agar gelombang otak kita bergetar pada 10 Hz, maka dapat kita lakukan dengan memasukkan dua buah getaran suara dengan nada yang berbeda pada masing-masing dua telinga kita, misalkan 500 Hz dan 510 Hz, atau 550 Hz dan 560 Hz, atau 470 Hz dan 480 Hz dan seterusnya. Selisih dua getaran suara tersebut, dinamakan BINAURAL BEAT. Aplikasi lainnya. Sinkronisasi gelombang otak tidak hanya dipergunakan untuk tujuan yang berhubungan dengan meditasi saja, tapi juga dapat dipergunakan untuk tujuan-tujuan lain misalnya untuk membantu penyembuhan penyakit psikis seperti depresi, insomnia, migrain, kecanduan obat dll. Paparan ini merupakan langkah awal untuk membuka pintu gerbang ilmu pengetahuan tentang hubungan antara teknologi dan disiplin ilmu psikologi / parapsikologi yang selama ini dianggap misteri. Mudah-mudahan uraian ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amien

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: